Minggu, 05 Juli 2015

Hujan mencumbu senja

Adalah ia yg mengasihi
Merebut segala sangsi
Mencumbui yg ia sayangi
Tanah luhur, bumi
-
Adalah ia yg mendamaikan
Luluh segala tanpa belas kasihan
Sadarkan yg lupa kemanusiaan
Makhluk kejar setoran
-
Adalah ia yg melenyapkan
Atas kehendak keserakahan
Lalu lalang yg tak ada ampunan
Sirna lari tunggang-langgang
-
Adalah ia, hujan
(Kantin selatan UMY, hujan mencumbu senja, 24 April 2014)

Aku yang tak di aku

Aku,
Bukan siapa-siapa bila di sandingkan dengan dia
Bukan apa-apa bila di takar dengan dia
Bukan siapa-siapa lagi bila dengan Nya
Bukan apa-apa lagi bisa dengan Nya.
-
Aku,
Seringkali tidak pantas, sesekali pantas
Seringkali tidak pantas, bahkan tidak pernah pantas
Tak sepantas yg biasa di atas pentas
Tak pantas lagi kepada yg lebih atasnya pentas.
-
05 April 2015
Burjo pojok
-
‪#‎SajakDiri‬

Tentang, ah

Juga tak ada sepi waktu ini
Dua senyawa menari bahagia
Membenam hati dan diri sunyi
Hujan temaram tentang, ah...
-
Kira anak adam bertekuk lutut
Menunaikan hajat jasad yg butuh istirahat
Membuai bagi siapa yg hidup
Kita tau, itu malam
-
Pun, itu tak berlaku bagi diri ini
Bersama bulan bundar bersinar
Bintang gemerlap mengkilap
Kukirim sebait rindu bertabur pilu
-
Yang pasti,
Aku tak ingin cahaya redup,
Tak secerah kala ia menyapa kala pertama
Atau yang cukup haru, ia menyinari bukan diri ini.
-
Jika bukan cahaya
Lantas, aku menuju mercusuar yg mana
Terombang-ambing ditertawakan karang
Kemudian hilang di gulung ombak lautan?
-
Tuhan, yang pemurah.
Berkatilah, tanah yang indah
Diri ini bersemayam
-
23.59 / 5 Mei 2015
‪#‎SajakDiri

Dini, Fajar dan Pagi

Terima kasih
Sayang dan sumbangsih
Akan selalu menancap dalam hati
Ini, Lebih berharga dari materi
-
Aku bertanya,
Jika merah lantas kau artikan marah
Jika hitam lantas kau artikan kelam
Jika putih lantas kau pukul rata suci
Lantas, bagaimana kau artikan aku yang abu-abu?
-
Termasuk ajang koreksi
Akan masa depan kita nanti
Agar tak akan melulu mati
Tersengat akan halusinasi
-
Bukan maksud, sungguh
Tak setuju kemudian beda kubu
Tak sepaham maka baku hantam
Di teriaki maka saling caci-maki
-
Tuntut menuntut, pasti
Gambaran akan tak kepuasan hati
Bukankah semua ajang evaluasi nanti
Sungguh, tak ada maksud iri, dengki, sakit hati.
-
Sejatinya, hanya sadar antar diri
Semoga, jiwa dan raga akan lebih baik lagi
Bukan hanya untuk individu ini
Beban sebagai penerus ummat nanti
-
Sejatinya, kita adalah satu
Ku kira tak ada kata musuh
Perkara kecil tentang tidak setuju
Bukan begitu kawanku?
-
Mohon maaf, atas laku dan perangai
Jauh dari kata baik dan benar.
-
LPJ Musykom XXII IMM FAI UMY
Aula MUHI
06.22 / 24 Mei 2015

Senin, 27 April 2015

Movie Review: Senyap

image
Adi Rukun menonton televisi. Adi Rukun menjalankan tugasnya sebagai optometris. Adi Rukun bercengkerama dengan keluarganya.

Tiga kegiatan yang terdengar sederhana itu menjadi formula dasar film dokumenter Senyap—berjudul internasional The Look of Silence—garapan Joshua Oppenheimer yang menindaklanjuti Jagal atau, bagi publik mancanegara, The Act of Killing.

Seperti pendahulunya, Senyap kembali berupaya menguak pembunuhan lebih dari satu juta orang yang dituduh terlibat sebagai anggota Partai Komunis Indonesia pada medio 1965 hingga 1966. Sebuah genosida yang dibiarkan. Namun, seperti dapat diterka lewat paragraf pembuka ulasan ini, ada pendekatan yang berbanding terbalik pada dua film dokumenter tersebut.