Senin, 06 April 2015

Sepenggal Rindu di Hari Ibu

Terbersit rasa bangga padamu
Satu wanita diantara beribu-ribu
Yang parasnya tak pernah layu
Wajah sederhana yang sungguh ayu
Paras dan laku sungguhlah padu
Berjalan sejajar dalam setiap waktu
Tak terlihat palsu namun lugu
Seringkali membahagiakanku
Ibu
Resahku yang sungguh padamu
Rindu yang saban hari tak mau berlalu
Selalu menggebu di kejar waktu
Tak mungkin ada ragu
Ku yakin akan segala kasihmu
Yang pasti kau jaga selalu
Untuk kami, anak-anakmu
Selamat Hari Ibu
Sehatlah selalu dan berbahagialah

22 Desember 2014, 02.30, Yogyakarta

Maha Meracau

Tergambar raut wajah sang maha
Gembira suka-cita, Sedih nan gelisah
Melebur, tak sanggup terungkapkan kata-kata
Meracau dalam ruang-ruang mereka
-
Mereka bergerombol dan berkerumunan
Berkerumun dalam kebingungan
Entah apa yang dibicarakan
Sebagian tetap terjaga dalam lamunan
-
Barisan huruf dan angka
Itulah yang mereka sembah
Sehingga lupa akan sifat manusia
Yang terbatas dalam kata sempurna

Tangan Kanan Tuhan - Teruntuk Ibu

Ibu
Masih tergambar jelas raut wajah manismu
Wanita terbaik pilihan ayahku
Satu wanita terbaik dari sekian ribu
Yang hingga kini setia menyanding ayahku
Ibu,
Jarak teritorialku dan kamu tidaklah dekat
Lautan luas membentang menyayat
Sama halnya dengan jalur darat
Namun percayalah, kasihmu tetaplah melekat
Ibu,
Delapan belas tahun yang lalu
Lahirlah aku, putra pertamamu
Raut wajah mu gembira nan mengharu-biru
Ribuan harapan kau sematkan padaku.
Ibu,
Inginku mengutuk jarak
Satu hal yang tak kunjung tidak
Namun, keberatan pun ku tak punya hak
Penyebab rindu yang saban hari semakin berpetak

Kamis, 10 Juli 2014

Buai Cahaya



Cahaya, yang selalu menyilaukan
Tak jarang ia juga membutakan
Menyiramiku yang sedang berantakan
Kerana di terjang ombak kehidupan
Cahaya
Rayumu membelah pikiran
Sesekali membawaku dalam lamunan
Lamunan bak oase ditengah kegersangan
Terkadang juga menggoda dengan kerinduan
Cahaya
Pun kau kukagumi
Namun aku sesekali hati-hati
Tentang resah yang terkadang mengganggu sekali
Taklain kau yang kini
Kau yang seringkali
Diperebutkan~

Layu kah kau Kuncup Melati?



Ketika mata ini memandang kanan-kiri dengan ragu-ragu
Kulihat deretan kuncup melati berbalut rindu
Tak sedikit kuncup melati yang menurutku baru
Yang hadir bersuka cita tanpa terlihat sendu
Berpuluh-puluh kuncup melati bahagia
Terlihat satu dalam warna
Pun, hanya aku yang berbeda
Kerana ku sungguh kecewa
Kuncup melati sembuhkanlah
Rasa kecewaku yang telah membara
Mungkin
Bukan salah rumah yang berdebu
Tapi, salah penghuni yang tak mau menyapu
Kawanan kuncup melati
Berserakam dalam warna api
Semoga saja kita tak sampai disini
Terbuai dalam halusinasi
Tak disangka
Sepasang-pasang mata melihat dan tertuju pada kita
Memandang penuh seksama
Pun aku tak paham tentang apa itu amanah
Pun telah cukup ku bersaksi dan bersumpah
Di hadapan tiga anak manusia
Ini semua bagiku bualan semata
Banyak dari mereka
Datang ketika gembira ria
Dan buta ketika derita mengancam tiba-tiba