Berbicara tentang organisasi yang besar seperti IMM ini bukanlah
sebuah pekerjaan yang gampang. Entah karena terlalu sempurnakah organisasi ini
sehingga sulit mencari celah untuk di kritik atau semakin besar organisasi ini
malah semakin besar pula keburukan yang terdapat didalamnya sehingga “malas”
untuk membicarakan. Terlewat dari kedua asumsi tadi, saya tetap akan
membicarakan organisasi besar ini, entah nanti hal yang didapat objektif
ataupun subjektif, biarlah khalayak yang menilai.
Setelah memasuki tahun ketiga di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)
ini, aku banyak mendapat tahu sekaligus banyak juga mendapat pilu. Kiprah atau
perjalanan di Ikatan ini aku awali di tingkat terbawah organisasi ini, yaitu
komisariat. Salah satu komisariat yang bisa dikatakan paling “alim” diantara
yang lainnya, komisarita Fakultas Agama Islam UMY, satu diantara beberapa
komisariat dibawah payung Pimpinan Cabang IMM Abdul Razak Fachruddin Kota
Yogyakarta. Setelah melewati perkaderan formal tingkat dasar, Darul Arqom Dasar
(DAD), tahun ketiga ini adalah massa dimana aku sekaligus teman sejawad
seangkatan mendapat tambahan amanah
yaitu menjadi pimpinan. Mengurusi seratusan anak manusia yang menjadi tanggung
jawab sehingga sesuai dengan tujuan ikatan bukanlah sebuah pekerjaan yang bisa
di kerjakan semalam saja, sebagaimana Bandung Bondowoso, namun butuh beberapa
faktor sehingga sesuai dengan Idealitas.


