Sabtu, 03 Juni 2017

Afi, Naufal dan Awkarin : Pernik bangsa yang pernah silap.

Kalau kita memperhatikan dengan jeli geliat per-sosmed-an indonesia dewasa ini, barangkali dosa-dosa kita terbantu menyusut karena kerapnya kita mengelus dada dan menyebut istighfar. Atau malah dosa semakin menggunung gegara sering misuh-misuh tidak karuan. Entah apapun sikap kita, kita memang patut tidak menutup mata-hati ihwal kondisi ini, kondisi dunia per-sosmed-an kita. Segala hiruk-pikuk indonesia seakan ditentukan oleh gemuruhnya sosmed dan keresahan kita seolah dipermainkan olehnya.
Dewasa ini, di dunia per-sosmed-an ramai gunjing tentang keabsahan tulisan dari seorang bocah baru lulus SMA yang tulisannya sering dipandang berbobot, mempunyai ruh, mengisyaratkan kedewasaan, dan memancarkan kebermanfaatan. Gunjingannya bermula (kalau tidak salah) ketika si anak lugu ini mengomentari tentang kasak-kusuk negeri ini, tulisan yang berjudul Warisan terduga sebagai bukan tulisan asli atau tulisan bukan buatan sendiri si dedek ini. Belum lagi, tidak sedikit yang mempermasalahkan perihal matan atau redaksi, isi atau kandungan, makna tersirat-tersurat dan tetekbengek lainnya dari tulisan yang berasal dari status facebook gadis ini. Gadis ini dikenal dengan nama Afi Nihaya Faradisa, dara dari kabupaten Banyuwangi – Jawa Timur.
Tulisan gadis ini memang mengisyaratkan kedewasaan dari seorang bocah (beberapa tulisannya bisa kalian nikmati di Kumparan “5 Status Inspiratif Afi Nihaya Faradisa yang Viral”). Akibatnya, banyak yang memuji sekalian memberi apresisasi. Ia diundang menjadi narasumber di Universitas Gajah Mada (UGM), di acara-acara lainnya, distasiun-stasiun televisi, diradio-radio dan seabrek media lainnya. Tapi, yang tidak kalah kerennya, dara tersebut diundang oleh Yang Mulia Presiden RI ke-8, Bapak Joko Widodo, ke Istana Negara, untuk menghadiri upacara Peringatan Hari Pancasila. Yang tidak kalah penting, Afi diajak duduk dan ngobrol bersama Bapak Negara, ngajak selfie lagi.
Tapi banyak juga yang “tidak terima”. Pasalnya, tulisan dia dianggap tidak orisinil, plagiat, tidak dari pemikiran sendiri. Mereka mempermasalahkan mengapa malah memberi apresiasi yang lebih terhadap pelaku plagiat, pembuat karya tidak orisinil. Bahkan, ketika dara tersebut menjadi narasumber di UGM, banyak yang tidak terima. Alasannya beragam, salahsatunya dia dipandang tidak cocok ngisi di kampus yang notabenenya dunia Mahasiswa atau akademik tinggi, tetiba anak ingusan kemarin sore diundang buat memberi “pencerahan” di “dunia” yang bukan “dunia”nya. Semacam, seperti ada Alien kepilih jadi ketua RW di planet Bumi!.
Tidak sedikit pula kemudian banyak yang membandingkan dengan kehebatan seorang bocah kecil lainnya dari Aceh, namanya Naufal Raziq. Kali ini ia disiarkan menemukan sebuah penemuan mutakhir. Bocah tersebut menemukan energi listrik dari pohon kedondong (salahsatu beritanya bisa ditengok di Jawapos “Kisah Mengagumkan Naufal Raziq, Bocah Aceh Penemu Energi Listrik dari Pohon Kedondong). Meskipun listrik yang dihasilkan belum dapat memenuhi kebutuhan listrik di desanya, dan yang dihasilkan belum sampai keukuran Watt baru Miliwatt. Namun nasibnya tidak begitu “cemerlang” dibanding Afi. Bocah Aceh ini belum atau bahkan tidak diundang oleh Pak Presiden Jokowi ke istana, baru level Menteri dan Panglima TNI yang pernah mengundangnya dan mengajak berdiskusi. Walaupun ini hasil penemuannya sendiri.
Atas dasar itulah kemudian banyak yang membandingkan antar keduanya. Kehebatan antar dua bocah dibawah kata usia dewasa ini di ukur dan ditimbang. Bahkan, kedua kubu pendukung antar klaim kehebatan kedua bocah tersebut. Ada pendapat sepantasnyalah Afi memang mendapat apresiasi yang lebih tinggi sehingga diundang pak Jokowi, dibandingkan Naufal. Sebaliknya, Naufal dipandang tidak begitu hebat atas penemuan mutakhirnya tersebut. Dilain kubu, warganet mempermasalahkan kehadiran Afi di UGM atas dasar ketidak ilmiahan tulisannya, mempermasalahkan Sang Presiden mengundang pelaku Plagiat, media lebih mengagungkan tulisan yang banyak “celah”nya yang ditulis oleh Afi dan seabrek “negativisme” lainnya. Bahkan yang lebih parah, menyeret-nyeret keduanya, Afi dan Naufal, dengan isu bola panas Pilkada DKI yang masih belum usia matang. Duh, dek!
Kita memang patut berkaca. Atas dasar apa kita meremehkan, mencemooh, dan miskin apresiasi terhadap dua bocah yang pengetahuan tentang tisu magic pun saya ragu mereka tahu. Mereka terlalu suci untuk diseret-seret dipusaran perpolitikan kimcil dewasa ini. Terlalu belia untuk mengurusi sumpah-serapah, menampung pisuh-pisuhan, meredam bully-an, Prestasi dan kelebihan diusia yang masih belia mereka lah yang sepatutnya diapresiasi dengan baik. Mereka terlalu dini untuk dikasih umpatan, lebih-lebih dituduh antek komunis!.
Atau masyarakat kita memang mudah kagetan, mudah gumunan, mudah tercengang. Lawong dulu Awkarin menggegerkan dunia per-sosmed-an toh kita sekarang juga biasa-biasa aja. Padahal dandananya gak karu-karuan, umbar ketidaksopanan, buka-bukaan, dan seabrek perilaku “setan” lainnya, Astaghfirullah!. Seakan kita tidak merasa khawatir dan tidak segera mencari solusi atas fenomena cewek kurang kasih sayang ini, semacam ada pembiaran. Padahal jelas-jelas cewek ini jauh dari budaya ketimuran yang arif, bijaksana, sopan, santun, lembut dan tidak “semau gue”. Malah kita sibuk mencari-cari kesalahan dari bocah suci minim dosa ini. Seakan-akan kesilapan kecil dua bocah ini sangat membahayakan kehidupan bermasyarakat kita di banding bahaya ketidak-jelasan cewek tocil tanpa mutu ini.
Barangkali kita tidak usah lagi mendebatkan kehebatan dua bocah tadi, Afi dan Naufal. Kedua-duanya patut dan wajib mendapat apresiasi tinggi dari kita. Lebih baik memang kita memberi penghargaan dengan sangat atas kehebatan kedua anak ini, Afi dan Naufal. Bagaimana tidak, lewat keduanya kita bisa mengambil kebanggaan dan keteladanan bahwa usia saja belum cukup untuk mengukur kedewasaan. Dari keduanya bisa dijadikan uswatun khasanah generasi lanjut, umur belia bukan alasan untuk tidak mencari dan menebar makna. Urusan kesilapan, kekeliruan atau kekurangan mereka berdua, ya mbok bisa to dibimbing lagi? Usia masih muda sepantasnya memang panjang usia dan tanpa lelah mencari makna.
Setidaknya mereka berdua jauh lebih mending daripada bocah kelewat “dewasa” satunya, yang keblingernya kelewat batas. Namun bagaimanapun juga, awkarin adalah aset bangsa yang perlu dibimbing dan dididik. Toh Awkarin juga pernah membuat bangga Indonesia, pasalnya ia pernah meraih nilai UN SMP tertinggi se-kota Tanjungpinang, Riau tahun 2013. Pernah ya, ingat, pernah!. Wallahu `alam bish showab.


[i] Kader Muhammadiyah tulen yang mencintai kopi dengan sepenuh hati | Tinggal di Kasihan, mBantul | Dari Lamongan, Jatim | 0857-4611-9096 | Fb : facebook.com/aliefyogadh | ig/twit : @aliefyogadh | e : aliefyogadh@gmail.com

Senin, 27 Maret 2017

Khittah Perjuangan Kopi

Sumber http://historia.id/img/foto_berita/103120206-BUDAYA-Kopi-yang-Mengubah-Eropa.jpg
Beungoh singoh geutanyoe jep kupi di keude Meulaboh atawa ulon akan syahid
(besok pagi kita akan minum kopi di kota Meulaboh atau aku akan mati syahid)
Teuku Umar – Pahlawan nasional dari Nangroe Aceh Darussalam

Mungkin kita memang benar-benar butuh ngopi. Atau, mungkin kita memang butuh ngopi benar-benar. Bagaimana tidak, budaya nenek moyang yang akhir ini banyak ditinggalkan. Budaya masa lalu yang sering mendapat stigma negative ̶ buang waktu, lekat dengan pengangguran, pemborosan, gak berguna, dll. Budaya arif yang saat ini mungkin telah direduksi nilainya  ̶  hanya trend, sekedar minum, tempat foto dll. Mungkin itu yang kita perlakukan di warung kopi, atau tempat ngopi lainnya.
Kalau boleh kita menengok sejarah, kita akan menemukan bagaimana kerennya budaya ngopi, kita akan tahu bagaimana kopi bukan hanya minuman hitam pahit itu, kita akan tahu kalau warung kopi bukan hanya tempat untuk menggelak tawa atau menggelar bualan. Kita akan tahu kalau budaya ngopi akan melahirkan buahnya. Warung kopi akan membuahkan perubahan, menggelorakan peradaban dan menggoreskan sejarah. Kopi menggelorakan semangat revolusi. Ngopi pernah membuat resah penguasa, membuat resah para pemuka agama dan membuat resah pencibirnya.
Kopi, cikal revolusi!
Revolusi Mesir tahun 1919. Ketika rakyat Mesir saat itu memukul-mundur negara kolonial Inggris dari negaranya dan mengangkat perdana mentri pertama mereka, Saad Zaghul. Kita akan tahu, bahwa revolusi itu lahir dari kedai kopi, kedai kopi Mitatia, cikalnya jauh sebelum tahun itu. Awalnya datang dari seorang Pria pengelana, ia lahir di Afghanistan, belajar di Persia (Iran), dan punya hobi melanglang buana. Ia telah menjelajah India, Turki, Suriah, dan terakhir di Mesir. Namanya, Syeikh Jamaluddin, orang biasa memanggil Syekh Jamaluddin Al Afghani ̶ karena ia berasal dari Afghanistan. Obrolan-obrolannya di kedai kopi mampu membakar semangat warga mesir untuk mengusir penjajah negaranya. Diantara yang setia datang di kedai mitatia tersebut adalah Syekh Muhamamad Abduh, seorang ulama yang kita kenal sebagai pembaharu.
Selain Syekh Muhammad Abduh, ada dua orang lain yang setia datang, pertama bernama Abdullah al-Nadim, ia mendapat julukan Khathîb al-Tsawrah (Orator Revolusi 1919). Yang kedua, junior Abduh di Universitas Al-Azhar, bernama Saad Zaghlul, yang kemudian ia menjadi tokoh revolusi dan Perdana Menteri pertama rakyat Mesir. Kedua orang ini memang bisa dijuluki sebagai “singa podium”. Kata-kata sang guru, Syekh Jamaluddin, tertancap kuat di nadi mereka sehingga tidak heran kalau keduanya di sebut sebagai tokoh Revolusi Mesir 1919.
Tidak hanya di Mesir, di Perancis ada yang sebuah kedai kopi bernama Procope. Procope menjadi jujukan para tokoh-tokoh besar dunia ̶ Rousseau, Denis Diderot, dan Napoleon Bonaparte ̶ termasuk juga Voltaire, seorang Filsuf yang bisa dibilang berperan penting dalam Revolusi Perancis. Minuman kopi lah yang banyak mengilhami gagasan-gagasan pencerahan dan pergerakan, termasuk Revolusi Perancis, dari kedai kopi lah Revolusi Perancis dapat di”letuskan”. Konon, Voltaire adalah seorang “pecandu” kopi berat, kabarnya ia mampu menghabiskan 50 cangkir kopi dalam sehari. Jules Michelet, bahkan menyebutkan bahwa kopilah yang mengubah sejarah Perancis. “Kopi, minuman tak memabukkan. Stimulan mental yang kuat, meningkatkan kejernihan otak,” begitu dia kira-kira menyebut kehebatan minuman tersebut.
Kopi sebenarnya banyak melahirkan perubahan sosial. Ketika kopi telah menemukan tempatnya, kopi tidak hanya sebagai barang yang layak dikonsumsi. Lebih dari itu, kopi turut juga terlibat dalam perubahan sosial-politik. Ketika media massa belum menemukan momentumnya, kedai kopi berperan sebagai itu. Kedai kopi berperan sebagai media massa. Berita tersalur dari mulut ke mulut, kabar tersiar dari satu individu ke individu lainnya. Proses dialogis itu terjadi di kedai-kedai kopi. Karena masifnya kedai kopi sebagai media informasi, penguasa-penguasa yang khawatir hal-hal politis dibincangkan di kedai-kedai kopi, mulai ambil ancang-ancang. Tidak sedikit penguasa di beberapa belahan dunia yang mulai resah dan bahkan mengambil tindakan yang lebih extream, melarang beredarnya kopi dan menutup kedai-kedai kopi. Bahkan di Jerman, pada saat itu, penguasanya membuat propaganda bahwa kopi telah menggeser minuman khas Jerman yaitu bir sehingga harus di musnahkan. Namun, segala tabiat buruk para penguasa itu mendapat resitensi dan pertentangan. Banyak masyarakat yang melawan dan tetap menggunakan kedai-kedai kopi sebagai tempat yang nyaman untuk obral-obrol perkara politik dan sosial. Di Eropa, misal, perlawanan itu mendapat puncaknya, gagasan-gagasan yang tertuang di cangkir-cangkir kemudian di telan dalam kedahagaan pergerakan, akhirnya memunculkan buahnya, Revolusi Perancis.
Khittah kopi.
Menurut Salim A Fillah, budaya ngopi sangat akrab di dunia Islam. Ada dua jenis tipe motivasi orang islam dahulu untuk meminum kopi. Kalau tidak digunakan sebagai penjaga agar kantuk tak datang oleh para `Abid, ahli Ibadah, dan menambah kekhusukan dalam bermunajat kepada-Nya. Yang kedua kopi juga digunakan oleh Ahli `Ilmu sebagai pengganjal mata dan penjaga pikir agar mampu menyelami bahtera ilmu dalam buku-buku dengan khusuk.
Sebuah manuskrip tentang budaya Muslim di abad ke-15 menyebutkan, kopi mulai dikenal dalam budaya umat Islam pada sekitar tahun 1400. Kopi itu dibawa masyarakat Yaman dari Ethiopia. Orang Afrika, terutama Ethiopia, telah mengenal kopi sejak tahun 800 SM. Saat itu, mereka mengonsumsi kopi yang dicampur dengan lemak hewan dan anggur untuk memenuhi kebutuhan protein dan energi tubuh.
Sumber lain, yakni kesaksian dari ilmuwan Muslim terkemuka, Al-Razi dan Ibnu Sina, menyatakan kopi telah dikenal di kalangan umat Islam pada awal abad ke-10. Minuman ini pertama kali dinikmati dan dibudidayakan oleh masyarakat Yaman. Mereka menyebut minuman kopi sebagai al-Qahwa. Konon, peminum pertama kopi adalah kaum sufi yang menggunakannya sebagai stimulan agar tetap terjaga selama berzikir pada malam hari. Dari Yaman, keharuman kopi merebak ke berbagai kawasan di sekitarnya, lalu ke Eropa, Amerika, dan akhirnya mendunia. Para pelancong, peziarah, dan pedaganglah yang membawa kopi melanglang buana.
Ibnu Sina sendiri, kabarnya, pernah meneliti sebuah zat kimia yang ada dalam kopi dalam segi kesehatan (kedokteran). Ia menemuka bahwa dalam kopi terdapat zat yang membuat semangat dan memberi energi lebih kepada tubuh. Tidak hanya itu, Ibnu Sina menyebutkan bahwa manfaat kopi dapat menguatkan tubuh, membersihkan kulit dan memberikan bau semerbak untuk sekujur tubuh. Hal ini tercantum dalam dokumennya dalam ilmu kedokteran dan kesehatan yang familiar yaitu Canon Of Medicine. Sebuah dokumen yang menjadi acuan para dokter dan sekolah-sekolah kesehatan Eropa hingga abad ke-19.
Jika kita melihat negri kita sendiri, barangkali peran kopi pada sejarahnya tidak sehebat di Perancis atau di Mesir. Kopi memiliki sejarah yang bisa dikatakan kelam. Di indonesia, kopi tidak lebih hanya komoditas perdagangan oleh penjajah, Belanda, untuk di ekspor ke seluruh Dunia. Kabarnya, Belanda sengaja membawa biji kopi ke Indonesia karena mengetahui geliat bisnis di sektor kopi. Para petani-petani di paksa untuk menanam kopi dan di bayar dengan murah ̶ bahkan tidak dibayar. Itu semua terjadi ketika Belanda menerapkan tanam paksa. Kopi-kopi terbaik dan berani bersaing yang ada di Perancis, Absterdam, Istanbul dll merupakan hasil dari tanam paksa di Indonesia.
Kopi memang membutuhkan perjalanan panjang sebelum sampai pada cangkir-cangkir dan di teguk dalam tenggorokan. Petani harus mempersiapkan lahan tanah yang subur dan iklim yang sesuai. Hingga kopi ditanam, petani juga harus merawatnya, karena karakter kopi akan mudah berubah walau berbeda perlakuan. Petani juga harus menunggu waktu yang cukup lama dari menanam hingga panen. Setelah panen, seharusnya petani merasakan kesejahteraan setelah bersusah payah merawat kualitas kopi. Tapi kenyataan berbeda, setelah panen, petani harus bertemu dengan tengkulak-tengkulak pemeras yang kejam, tamak dan korup. Itulah realitas kelam sejarah kopi di Indonesia ̶ mungkin hingga sekarang. Kopi memang melegenda di Indonesia, tapi keuntungan yang yang didapat sangat rendah jika di padankan dengan peluanganya dalam hal finansial.
Inspirasi, kopi!
Kopi, ngopi dan Kedai Kopi, memang memiliki makna yang berbeda. Namun, ketiganya memiliki satu simpul yang erat, yaitu tentang sebuah kopi. Kopi bisa kita artikan sebuah biji-bijian yang ditanam didataran tinggi, yang memiliki proses panjang mengiringinya dari menanam hingga memanen, dari lembah-lembah hingga kecangkir-cangkir dan tenggorokan. Ada banyak kisah yang terjadi disepanjang perjalanannya, kisah air mata buruh kebun kopi dengan upah yang murah, kisah keringat petani kopi yang berbuah bertemunya dangan tengkulak yang kejam, pelit dan korup. Juga, kisah mesin-mesin olahan kopi produksi lokal yang selalu dipandang sebelah mata oleh para pengolah kopi yang tergiur merk mesin-mesin kopi terkenal dari negara lain.
Ngopi sendiri memiliki arti sebuah perilaku, kebiasaan atau proses sosialiasi yang ditandai dengan menjadikan kopi sebagai suguhan  ̶  bahkan seringkali bukan kopi  ̶  yang ada dalam Kedai-kedai Kopi. Tidak hanya kopi yang memiliki kisah panjang, ngopi dan tempat ngopinya  ̶  kedai kopi  ̶  sendiri memiliki kisahnya. Mulai dari ngopi yang dipandang sebagai budaya buang-buang waktu, trend ngopi dikalangan milenial yang tak lebih hanya sebagai gaya-gayaan ̶ miskin makna­  ̶  dan tempat ngehits, hingga ngopi yang tidak lagi sebagai tempat berinteraksi dan hanya tempat menumpang leha-leha. Juga nasib Kedai-kedai Kopi lokal yang kalah ramai dengan Kedai Kopi branded asal luar negeri  ̶  padahal kopinya berasal dari negri sendiri  ̶  hingga cafe yang bermodus Kedai Kopi yang otomatis tidak menjual kopi  ̶  atau berbahan dasar kopi.
Maka, baik kita pecinta kopi arabica, robusta, excelsa, liberica, kopi ‘sobek’ atau sachet, kopi susu, kopi impor dan lain sebagainya, mari bersatu!. Kita ramaikan Kedai-kedai kopi sebagai pusat peradaban. Kita gelorakan budaya ngopi sebagai proses sosialisasi, berdiskusi dan mendaras ilmu-ilmu. Kita kobarkan kopi sebagai pendorong gagasan-gagasan kita sehingga berupa aksi.
Bisa kita bayangkan. Segala gagasan yang ada dalam otak kita dapat kita tuangkan dalam cangkir-cangkir kopi, kemudian berekstraksi bersama mengalirnya tuah-tuah dari mulut kita, dan pada akhirnya akan kita teguk dalam-dalam sehingga gagasan tidak akan menguap bercampur polusi, gagasan akan lahir dalam rupa realisasi  ̶  minimal, walau tidak langsung, bisa kita tagihkan di pertemuan selanjutnya.
Bisa juga kita bayangkan, kita dapat memanen buah dari budaya ini. Tidak ada lagi pertentangan berkedok diskusi dalam grup dunia maya yang berujung “keluar grup”, yang berujung nggondok, yang berujung munculnya remah-remah kebencian. Proses sosialisasi dalam ngopi memang nyata dan minim konflik  ̶  untuk tidak menyebut tidak ada konflik  ̶  kita akan dapat menilai secara langsung dari gestur, mimik, intonasi, gerak dan kondisi psikologis lainnya secara nyata dari lawan bicara atau teman dalam bersosialiasi kita.
Dari peristiwa sejarah yang telah kita obrolkan diatas bisa menjadi bentuk penyadaran bagi saya khususnya dan bagi Jamaah Kopiiyah seluruh Jagat Raya  ̶  meskipun kebenaran akan cerita-cerita diatas masih perlu kita cari kebenarannya lagi, tapi minimal bisa menjadi inspirasi. Semoga, dari kita, Kedai Kopi dan budaya ngopi dapat menemukan momentumnya lagi. Dari kita, akan lahir Revolusi Mesir dan Revolusi Perancis versi kita. Semoga, Kedai Kopi dan budaya ngopi bukan hanya sebagai tempat singgah pengumbar nafsu syahwati yang lebih banyak mengundang madhorot daripada manfaah. Mari kembali ke Khittah Kopi. Akhirul kalam, wallahu`alam bi showab. Tabik!




[1] Penyadur merupakan penggemar kopi dan pelaku budaya ngopi. Juga, sebagai Sekretaris Bidang Perkaderan PC IMM AR Fakhruddin Kota Yogyakarta tahun 2016-2017. Termasuk juga, ia bagian dari keluarga Team Hanum Mawar.

Senin, 13 Februari 2017

Merindukan beliau, Pak AR

Pak AR, biasa kita menyebut pemimpin kita ini. Seorang pemimpin yang sangat dicintai ummatnya. Pemimpin yang sangat sederhana dan pemimpin yang sangat “membumi”. Sayang, Allah lebih cinta beliau sehingga kini ia telah datang ke haribaan-Nya. Namun, daripadanya kita dapat memperoleh beribu pelajaran hidup, baik yang ia sampaikan secara langsung maupun tidak. Olehnya, beribu tauladan dapat kita petik dari kehidupannya. Ditangannya, islam dibawa dengan sangat sejuk dan damai. Dalam berdakwah, ia memiliki prinsip : Islam harus dibawakan dengan senyum. Tidak heran, ia amat sangat dicintai oleh ummat, baik dari golongan Muhammadiyah maupun diluar Muhammadiyah.
Sikap beliau itu adalah aktualisasi dari hadits Nabi SAW, “Senyummu kepada saudaramu adalah ibadah”. Tidak heran, ketika kita mendengar nama beliau akan terlintas bahwa ia adalah seorang pengabdi ummat yang membawa islam dengan senyum, dengan ramah, dengan santun dan bijak. Kesan itulah yang melekat pada pemimpin kharismatik tersebut. Prinsip beliau tersebutlah yang kemudian membawa pandangan Muhammadiyah, organisasi yang pernah beliau pimpin, sebagai organisasi yang teduh nan damai. Pantas kiranya, Muhammadiyah hingga kini masih diberi kesempatan untuk bersinar lebih lama, walau ketika pada waktu itu sempat terjadi “huru-hara” di saat Orde Baru.
Sikap beliau yang ramah dan humoris itulah yang kemudian menghantarkannya menjadi seorang pemimpin persyarikatan. Tidak tanggung-tanggung, boleh dikatakan bahwa beliau adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang paling lama menjabat. Hampir seperempat abad, ia memimpin organisasi dakwah ini. Berbagai macam kesukaran yang menimpa Muhammadiyah pada saat itu, dapat diatasi dengan sikap yang ramah, santun humoris itu. Salahsatu contohnya adalah, pada saat tahun 1970 an, era dimana Orde Baru sedang berkuasa. Saat itu, Muhammadiyah sedang di hadapkan oleh pilihan yang sangat dilematis, Muhammadiyah adalah salahsatu tiang penyangga Orde Baru harus dihadapkan oleh pilihan antara asas tunggal/Pancasila atau asas Islam. Dengan mempertimbangkan semuanya baik dengan jalan diskusi maupun berkonsultasi, akhirnya Muhammadiyah, lewat Pak AR, merumuskan kiat sederhana dan jitu. Bahwa penerimaan Muhammadiyah terhadap asas tunggal/Pancasila didasarkan pada komitmen rakyat terhadap Pancasila sebagai dasar negara. Pak AR mengibaratkan pilihan tersebut seperti “Politik Helm” –siapapun yang akan mengendarai sepeda motor di jalan raya, diwajibkan untuk mengenakan helm, sebagai prasyarat keselamatan. Kebijakan dan kemampuan mengelola Muhammadiyah pada masa yang sukar itulah menandakan akan daya tanggap dari beliau yang luwes, santun, sederhana dan kekuatan kepribadian beliau.
Disamping sisi beliau yang ramah, humoris dan suka senyum, beliau juga dikenal dengan seorang ulama yang sederhana, ikhlas dan bersahaja. Konon, beliau pernah ditawari menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), namun beliau tolak, beliau ditawari mobil oleh suatu perusahaan, beliau tolak. Beliau pernah ditawari menjadi menteri oleh Presiden Soeharto, namun beliau tolak. Bahkan, dalam sebuah riwayat salahsatunya tentang beliau, seorang ulama, pemimpin, orang terpandang namun sampai akhir hayatnya beliau tidak memiliki rumah. Beliau selama itu hanya mengontrak rumah aset dari Muhammadiyah. Walaupun, beliau pernah menyicil sebuah rumah namun beliau ditipu pengembang, uang cicilannya di gelapkan oleh pengembang, beliau tetap bersahaja.
Budayawan kondang, Emha Ainun Najib, pernah mengungkapkan kekagumannya terhadap guru besar itu “Sedemikian melimpah rezeki dari Allah kepada Pak AR sehingga kehidupan beliau hampir sama sekali tidak bergantung kepada barang-barang dunia”. Bisakah kita berpikir logis, ditengah era dimana sebuah jabatan adalah lahan garap penyubur kantong, Pak AR dengan bersahajanya, adalah seorang penjual bensin eceran di depan rumahnya. Bisakah kemudian kita bayangkan, beliau adalah pemimpin yang memimpin ummat berpuluh-puluh juta, memimpin organisasi yang memiliki beribu lembaga pendidikan dan kesehatan, yang dengan kepemimpinannya beliau bisa saja memanfaatkan posisinya untuk “mensejahterakan” hidupnya namun beliau hanya memiliki motor butut yang sering mogok.
Pak AR, yang memiliki nama panjang Abdul Rozak Fachruddin, adalah seorang pemimpin, ulama, guru yang kehidupannya patut kita jadikan tauladan. Semangat dan militansi beliau dalam berdakwah adalah uswah yang memang harus selalu kita contoh. Ditengah kondisi keindonesiaan yang kini bisa kita bilang mengalami krisis kepemimpinan, nampaknya merindukan sosok Pak AR bukanlah sebuah ketidakniscayaan. Memimpikan pemimpin yang sederhana, ikhlas, bersahaja, dan membumi mungkin sangat sulit kita dapatkan hari-hari ini. Nampaknya, kehadiran sosok pemimpin yang seperti beliau di saat bangsa mengalami masa yang bisa dibilang sulit, bak oase di tengah gurun yang terik dan tandus. Dibutuhkan sosok pemimpin yang dapat mencari jalan keluar di tengah permasahalan dengan jitu, sederhana dan memiliki kepribadian yang kuat.
Tidak salah, kini nama beliau diabadikan menjadi identitas sebuah organisasi kemahasiswaan Muhammadiyah di Yogyakarta. Namanya kini di pakai sebagai tanda kekaguman, cinta dan kasih kepada beliau, Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Abdul Razak Fakhruudin Kota Yogyakarta. Entah bagaimana awal-mula founding father Pimpinan Cabang IMM AR Fakhruudin menggunakan nama beliau sebagai identitas organisasi. Mungkin, harapannya dari kawah inilah lahir pribadi-pribadi yang seperti Pak AR. Dari beliau, Pak AR, kesederhanaan, keikhlasan dan kebersahajaan adalah tauladan dalam berjuang di organisasi. Dari beliau, Pak AR, dapat menjadi contoh kita dalam mengemban misi di dunia sebagai Kholifatullah fi Al Ardli sehingga terwujud apa yang kita cita-citakan yaitu Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofurun –Negeri yang baik dengan Robb yang Maha Pengampun.
Kini tepat 14 Februari, Kiai Sufi ini, lebih satu abad dilahirkan dibumi sebagai kholifatullah. Tabik!

Rabu, 23 November 2016

Hujan (Mengingat Thales, filosof pertama yunani)

Teringat dg Thales, filosof yunani pertama, ‎air yg cair itu adalah pangkal, pokok dan dasar segalanya. Semua barang terjadi dari air dan semuanya kembali pada air pula. Sebagai orang pesisir, Thales melihat ‎bahwa setiap hari air laut menjadi sumber hidup. Dan di mesir, ia melihatnya betapa rakyat disana sangat bergantung pada air, sungai Nil. Sesekali, ketika ia melihat samudra, ia takjub bahwa sewaktu-waktu air bisa menggulung dan menghanyutkan, air musnahkan segala kehidupan. Demikianlah, Thales berpandangan air tidak pernah berkeputusan. Baginya, air adalah sebab yang pertama bagi segalanya, juga air adalah akhir dari segala. Asalnya air, akhirpun air. Atau air adalah substrat (bingkai) dan substansi (isi). Maka, Aristoteles berkesimpulan dg ajaran Thales "Semuanya itu Air". Wallahu 'alam bish showab.

(disadur dari Alam Pikiran Yunani - M. Hatta)

Kamis, 29 September 2016

Dualisme



Dalam banyak hal, jamak kita jumpai mindset orang di sekitar kita yang cukup bisa disebut ambigu. Hal tersebut disebut Dualisme. Sadar atau tanpa sadar, doktrin dualisme memang sudah mendarah-daging di sekitar kita. Banyak orang yang berkata bahwa "zina tidak apa, yang terpenting hatinya suci", "lebih baik kafir tapi dermawan, daripada muslim tapi kikir" dan bermacam ungkapan kontradiktif yang sering kita jumpai. Seorang dualis memandang fakta secara mendua. Jiwa-raga (mind-body) tidak saling terkait karena berbeda komposisi. Akal bisa saja jahat, materi tetaplah suci. Atau sebaliknya, jiwa selalu dianggap baik, raga sudah pasti jahat. Padahal, dari jiwalah kehendak berbuat itu timbul. Jika pun jiwa putih, maka sudah sepantasnya raga juga putih. Jikalau, jiwa memang berhendak buruk, raga pun berhendak buruk jua. Dalam islam, kerja raga adalah suruhan jiwa (innama al-a'mal bi al niyyat).
Nampaknya, doktrin dualisme telah memenuhi mindset masyarakat modern. Kemudian mindset yang absurd ini akan melahirkan istilah "penjahat yang santun", "koruptor yang dermawan", "kafir yang baik", "pelacur yang moralis" dll. Kebenaran menjadi dua, objektif dan subjektif. Bahkan di jaman postmo kebenaran menjadi dua, relative dan absolute. Dalam islam, konsep tauhid inherent dalam semua konsep, tentu asalkan sang subjek berpikir tauhidi. Dualisme akhirnya bisa menjadi perselingkuhan intelektual. Hatinya berdzikir tapi pikirannya menghujat. Wallahu a'lam bi as-showab.


Alfaqir
15/08/2016
Medan Tempur KKN
(mengutip dari buku MISYKAT, Hamid Fahmy Zarkasyi. Di terbitkan oleh INSISTS dan MIUMI).